nenek saya seorang penjual bubur

Posted on September 25, 2011

0


Saya memulai “belajar” memulai usaha pada tahun 2007. Saat itu, saya memutuskan keluar kerja dari sebuah lembaga pendidikan. Passion saya yang sangat kuat dalam dunia pendidikan Bahasa Asing menggiring seolah saya sedang tidak memiliki pilihan lain kecuali membuka usaha pendidikan. Membuka usaha pendidikan, bagaimanapun, nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan. Meski saya juga akhirnya sadar, tidak sesulit yang ditakutkan. Seorang kawan menawari rekanannya yang menyiapkan sejumput dana, dan dimulailah usaha pendidikan tersebut secara offline. Apa lacur, hanya perlu waktu kurang dari setahun, usaha kami harus gulung tikar, bangkrut. Sekitar 80 juta tanggungan yang harus kami terima waktu itu, suka atau tidak suka. Parahnya, sayalah orang terakhir yang bertahan di lembaga tersebut, karena 3 rekan lainnya, sudah lebih dulu “keluar” pada waktu itu, hebatnya saya baru saja memulai berkeluarga. Artinya sayapun menjalani “bulan madu” saya dengan kenyataan sedang gulur tikar.
Haripun berlalu dan saya dan istri menjalani kehidupan yang tidak mudah. Saya terus saja “ngotot” bertahan di usaha pendidikan dengan sedikit merubah konsep yaitu melakukan promosi online. Hasilnya memang cukup membantu, tetapi tetap saja belum mampu memenuhi kuota dana bulanan keluarga muda kami.
Di tengah badai tersebut, istri mendapatkan suatu ide. Diapun menyampaikan kepada saya. Mulanya saya tanggapi dengan dingin saja. Selain saat itu anak kami masih berusia bulanan, saya tidak cukup tega membiarkan istri saya menjalankannya. Sebagai seorang Sarjana sastra jepang, rasanya aneh kalau dia melakukannya. Ya, istri saya menyampaikan keinginannya berjualan Bubur Bayi. Alasannya ada seorang tetangga yang anak sematawayangnya yang berusia bulanan, sulit makan. Selain itu, anak kami pun memerlukan makanan sehat, begitu ujarnya.
Sungguh, Tidak pernah saya sangka, usaha yang dimulai istri saya tersebut kini justru menjadi “mainan” yang insya Alloh tidak main-main…. . Beberapa hari kemudian, saya memutuskan mengiyakan ide tersebut dengan lebih dahulu melakukan survery produk sejenis.
Setelah menggali informasi secukupnya, 3 hari kemudian kami berdagang. Mulanya, 1 meja dan panci kecil menjadi dagangan hari pertama kami. Tidak ada banner, tidak ada leaflet, tidak ada apa-apa. hanya senyum kami berdua, dan tatapan penasaran (yang lebih kami artikan “aneh) orang-orang yang lewat di depan kami. Maklum, hanya secarik kertas putih bertulis “Bubur Bayi Sehat” yang menjadi Brand Identity kami..hehe.
Setelah hampir sebulan, usaha kami mulai menampakkan hasil. Meski belum banyak, sudah puluhan ibu-ibu bayi yang menjadi pelanggan bubur kami…. Istri mulai tampak sangat yakin, bahwa suatu hari, dengan tambahan dan inovasi tertentu, usaha ini akan menjadi besar… She has a dream…..
Sebuah kampung kecil di Tegal 25 tahun lalu ( tahun 1987) ……………………
Seorang nenek tua, 60 tahunan, duduk setia di pinggir jalan, tepat di samping sebuah Madrasah Ibtida’iyah. Sebuah panci kecil yang penyok-penyok di sisinya berdiameter 16 cm, dengan (maaf) pantat panci yang gosong karena terlalu sering terkena bara mungkin, dan sebuah selendang merah hati kusam menemaninya. Setiap pagi, dijajakannya panci berisi bubur nasi itu sejak pukul 06.00 pagi. Sekolah sendiri baru dibuka jam 6.30. Beliau lah Mbah (Nenek) Aminah, nenek saya dari bapak. Di kampung, beliau dikenal dengan berjualan bubur. Pembelinya kebanyakan mereka yang sedang sakit, atau ibu dari para bayi. Telah bertahun – tahun Mbah Minah setia berjualan, dari jam 06.00 sebelum sekolah buka, sampai kira – kira jam 8.30 sampai terjual. Satu porsi, kadang Mbah Minah menjual dengan harga 100 atau 200 perak.
Saya tidak tahu detail, berapa porsi bisa nenek jual waktu itu. Sebagai cucu yang baru berusia 8 tahunan, yang saya ingat, saya sering datang pagi hari, lalu nenek saya membungkuskan saya bubur dengan daun pisang,lalu di samping nenek, saya memakannya dengan lahap, atau kadang saya bawa pulang.
Nenek saya berjualan hingga usia saya menginjak 12, saat saya masuk SMP…. entah apa alasannya. Saya tidak melihat lagi beliau berjualan hingga beliau menutup mata pada tahun 1995…
Tangerang 19 september 2011
Pagi ini istri saya mengabarkan lagi, seorang calon mitra yang terus – menerus menelpon dan sms agar diijinkan membuka cabang kami, di Jl. Sumatera, sebuah nama jalan di daerah Bekasi Timur. Padahal,kurang – lebih 1 km dari tempatnya, telah lebih dahulu ada cabang kami yang lain. Subhanalloh, permintaan mitra untuk pembukaan bubur bayi “BebiLuck” memang tengah naik, dan terus naik. Jika tidak dari internet, umumnya info kemitraan kami didapat setelah yang bersangkutan melihat langsung, bagaimana produk dijual, dan bagaimana mengasyikkannya menghadapi pembeli. Telah hampi 25 cabang dimiliki istri saya sekarang, dan direncanakan, 50 cabang bisa dibuka tahun ini….
Saya membayangkan jika saat ini Nenek saya masih hidup, beliau tidak perlu lagi menunggui buburnya sendirian, beliau tidak perlu lagi repot – repot memasak dari pagi buta, beliau hanya tinggal duduk, melihat dan tersenyum, saya dan istri, cucunya telah meneruskan usahanya…….
Tangerang 19 September 2011
KMM Transformer